Revitalisasi Museum Papua*
JAS Merah. Jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Ucapan Bung Karno, sang pahlawan proklamator kemerdekaan—sampai hari ini tetap kontektual digelorakan. Sejarah sangat berarti bagi suatu bangsa. Pada intinya sejarah akan menuntun kita menjadi pribadi yang utuh bagian dari sebuah bangsa. Pribadi yang mengenal betul bangsanya. Sehingga kebangsaan itu tercermin dari dirinya.
Coba kita bayangkan bagaimana ketika tidak ada mata pelajaran sejarah di sekolah. Anak-anak tidak akan mengetahui bagaimana bangsa Indonesia ini berdiri. Bagaimana dahulu Nusantara sempat digdaya saat Zaman Kerajaan Majapahit. Bagaimana dulu kita gigih berjuang melawan penjajah, walau hanya bersenjatakan bambu runcing. Dan bagaimana pejuang bangsa ini banyak yang ditangkap, dipenjara, dibuang, bahkan dibunuh. Mereka tidak akan mengetahui hal-hal itu.
Efek domino dari itu semua adalah terbentuknya seorang warga negara yang tidak utuh. Warga negara yang terjerabut dari akar sejarah dan budayanya. Warga negara yang demikian tidak akan memiliki nasionalisme maupun loyalitas yang kuat pada negara. Alhasil, negara lemah. Lemah tanpa dukungan kuat dari warga negaranya.
Betapa pentingnya suatu generasi mempelajari sejarah, mentasbihkan dunia pendidikan harus mengembangkan pembelajaran sejarah dengan berbagai metode maupun media yang variatif. Hari ini, belajar sejarah tidak cukup hanya dengan duduk manis di kelas. Mendengarkan guru berceramah. Atau dengan duduk manis di perpustakaan membuka lembaran-lembaran catatan sejarah.
Hari ini belajar sejarah perlu inovasi dalam penggunaan media pembelajarannya. Yang tentunya disesuaikan dengan penelitian bagaimana anak akan mudah memahami suatu materi. Mendengarkan dan membaca itu metode konvensial yang menghasilkan output memori yang mudah dilupakan. Taraf paling tinggi anak itu akan mudah memahami ketika mereka learning by doing maupun dengan belajar yang menyenangkan. Apabila ada emosi kuat pada penyampaian suatu materi, anak akan lebih mudah mengingatnya dan memahaminya suatu materi.
Belajar sejarah sulit untuk belajar dengan learning by doing. Paling mudah kita menerapkan pembelajaran yang menyenangkan. Entah di dalam ruang kelas maupun di luar kelas. Intinya pelajaran tersebut menyenangkan, sehingga ada emosi yang kuat disana.
Beberapa media yang tepat dengan pembelajaran yang seperti itu seperti dengan media film dokumenter. Anak tentu akan senang apabila belajar dengan melihat film dokumenter tentang sebuah sejarah. Hari ini, kita dapat dengan mudah mendownload film-film seperti itu di dunia maya. Biasanya setelah anak disuguhi film dokumenter, kemudian dilanjutkan dengan mengupas isi film tersebut. Tentu hal ini juga disesuaikan dengan jenjang kelasnya.
Kedua, melalui study tour. Study tour menjadi salah satu pilihan arternatif juga dalam pembelajaran sejarah. Kita dapat mengunjungi tempat-tempat bersejarah, maupun museum. Yang tentunya kegiatan tersebut harus benar-benar dirancang secara matang. Jangan sampai hanya tour-nya saja yang didapat, tapi study-nya terabaikan.
Museum menjadi tempat ideal untuk mempelajari sejarah. Di sana terdapat berbagai macam peninggalan sejarah yang memiliki value tertentu. Yang dengan itu pula kita dapat mengetahui dan memahami tentang suatu sejarah tertentu.
Melihat urgensi museum sebagai tempat mempelajari sejarah maka revitalisasi museum itu menjadi sebuah hal yang mutlak dilakukan. Tanpa itu, ditengah-tengah munjulang dan megahnya bangunan kota—museum akan menjadi tempat terbengkalai yang memiliki arsitektur kumal, bangunan tidak terawat, dan dengan koleksi-koleksi penuh debu. Padahal museum memiliki koleksi yang merupakan benda yang bervalue tinggi, yang bahkan langka.
Dimanapun tempatnya museum wajib hukumnya untuk secara berkala direvitalisasi. Diperbaharui bangunannya, diperbaiki pelayanannya, dirawat koleksinya, dan bahkan ditambah koleksinya.
Hal ini tak terkecuali untuk Museum Papua. Menurut hemat penulis, museum yang berada di Kabupaten Jayapura itu kondisinya kurang terawat. Dengan koleksi yang begitu banyak dan berharganya, tidak sebanding dengan perawatan museum. Katalog-katalog dan penjelasan suatu koleksi sudah banyak yang rusak atau pudar, sehingga sulit dibaca. Berbagai koleksinya juga berdebu dan banyak sarang laba-laba disana-sini, dan beberapa kekurangan lainnya. Tentu hal demikian dapat mengurangi kenyamanan proses belajar sejarah di museum.
Agaknya pemerintah harus mengambil sikap untuk kemudian melakukan revitalisasi terhadap Museum Papua. Sehingga proses belajar sejarah di museum yang dilakukan oleh anak-anak sekolah—maupun masyarakat umum—akan berjalan dengan efektif. Anak-anak dan masyarakat Papua akan memamahi budaya dan sejarah tanah Papua, pun begitu dengan pengunjung bukan orang Papua. Mereka akan lebih nyaman dalam memahami kekayaan budaya di Tanah Papua.

Posting Komentar untuk "Revitalisasi Museum Papua*"