Kepahlawan Vs Budaya Instan*
BANGSA ini baru saja memperingati hari pahlawan. Momen tersebut mengingatkan pada kita tentang perjuangan para pahlawan bangsa ini. Perjuangan mereka untuk merengkuh kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, sampai mengisi kemerdekaan itu sendiri.
Berbicara mengenai pahlawan, membuka logika kita pada suatu perjuangan panjang dan penuh pengorbanan. Dalam perjuangan meraih kemerdekaan misalnya, para pahlawan bertahun-tahun berjuang melawan para penjajah.
Dimulai dari perjuangan yang bersifat kedaerahan, sampai perjuangan yang bersifat nasional. Mulai dari perjuangan fisik seperti perjuangan Pangeran Diponegoro, sampai perjuangan diplomatik seperti oleh Ir. Soekarno, Moh. Hatta, dan kawan-kawan. Semuanya, berjuang dengan mengorbankan berbagai hal yang amat berarti bagi mereka. Yang tak jarang nyawa pun musti jadi taruhan.
Begitu mengagumkan perjuangan para pahlawan, mereka berjuang dengan tujuan pasti melalui proses yang tak pendek. Hal ini menyiratkan makna bahwa suatu tujuan, mimpi, visi, maupun cita-cita itu memerlukan dua hal pokok: perjuangan dan proses. Kedua hal itu, merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tanpa kedua hal ini niscaya, suatu tujuan dapat dicapai secara maksimal.
Namun sekarang ini, realitas sosial kita menunjukan logika berlawanan. Tujuan, visi, mimpi, maupun cita-cita tidak lagi digerakan oleh perjuangan dan proses, tapi oleh penyimpangan-penyimpangan hukum, sosial, maupun moral. Hal inilah yang dikatakan sebagai budaya instan.
Dewasa ini, untuk meraih sesuatu orang lebih suka mendapatkannya secara kilat tanpa kerja keras. Sebagai contoh, pada momentum pemilu banyak diantara kontestan yang membeli ijazah palsu untuk melengkapi persyaratan peserta pemilu. Mereka lebih memilih jalur pintas, daripada harus bersusah payah menimba ilmu bertahun-tahun lamanya. Dalam konteks pelajar, pelajar lebih banyak menggantungkan diri pada menyontek daripada belajar untuk mendapatkan nilai bagus. Dan banyak lagi contoh-contoh yang lain.
Budaya instan ini tentu amat berseberangan dengan semangat kepahlawanan itu sendiri. Semangat yang digerakan oleh suatu perjuangan dan proses. Sehingga, seharusnya semangat kepahlawanan tersebut wajib kita warisi. Semangat untuk mewujudkan tujuan, visi, mimpi, maupun cita-cita dengan menghadirkan suatu perjuangan dalam sebuah proses yang panjang nir-penyimpangan hukum, sosial, maupun moral.

Posting Komentar untuk "Kepahlawan Vs Budaya Instan*"