Gerakan Paperless di Sekolah*
POHON merupakan hal penting bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi ini. Pohon mampu menyerap gas CO2 dan menyerap gas beracun lainnya dari udara. Disamping itu pohon juga menghasilkan Oksigen atau O2 yang merupakan sumber kehidupan bagi manusia maupun makhluk hidup lainnya di bumi ini.
Hari Pohon Sedunia yang jatuh pada tanggal 21 November agaknya dapat menjadi momentum reflektif terkait dengan kondisi hutan di Indonesia. Tak bisa dipungkiri bahwa sampai sekarang ini tindakan-tindakan pengrusakan hutan di Indonesia masih sering terjadi. Menurut Kepala Badan Planologi Kehutanan Buen M. Purnama, kerusakan hutan di Indonesia mencapai dua juta hektare per tahun. Kerusakan itu antara lain disebabkan oleh pembukaan lahan baru dan penebangan liar (tempo.co, 26/3). Fakta tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan hutan di Indonesia cukup menghawatirkan.
Fakta tersebut perlu disikapi oleh segenap skate holders, baik pemerintah maupun civil society yang consen pada perihal lingkungan hidup. Gerakan-gerakan seperti penanaman pohon dan mengembalikan fungsi hutan perlu diintensifkan lagi. Disamping itu gerakan-gerakan bermanfaat lain juga perlu dihadirkan, seperti gerakan pengurangan penggunaan kertas (paperless).
Untuk gerakan pengurangan penggunaan kertas (paperless) sendiri, di Indonesia belum menjadi concen bagi pemerintah untuk diterapkan. Padahal dengan mengurangi penggunaan kertas, kita dapat mengurangi penebangan pohon sebagai bahan baku pembuatan kertas.
Mafhum kita pahami dalam proses belajar mengajar di sekolah tugas menjadi makanan sehari-hari bagi siswa. Hampir setiap hari ada saja guru yang memberikan tugas bagi siswa. Kebanyakan tugas-tugas tersebut masih berupa tugas konvensional yang pengerjaannya membutuhkan pelibatan kertas dan pena. Seperti tugas mengerjakan soal dalam kertas lepas, diskusi kelompok dengan hasil yang ditulis di kertas lepas, dan tugas-tugas lainnya. Tugas semacam ini tentu dalam hal penggunaan kertas bisa dinilai sebagai pemborosan kertas, karena setelah tugas tersebut dinilai maka kertas tugas tadi sudah useless.
Sudah saatnya sekolah berlahan-lahan mulai menerapkan gerakan paperless. Tugas-tugas yang ada sedikit demi sedikit mulai dialihkan dari pengerjaan menggunakan kertas ke pengerjaan dengan bantuan IT. Namun, tentu saja penerapannya disesuaikan dengan kondisi sekolah. Sekolah yang berpotensi dapat menerapkan gerakan semacam ini adalah sekolah-sekolah diperkotaan. Sekolah dipinggiran kota, akan kesulitan menerapkan gerakan semacam ini karena fasilitas IT yang kurang memadai. Implementasi penerapakan gerakan paperless dapat dilakukan dengan pemanfaatan akses internet. Guru atau sekolah dapat membuat domain khusus untuk mengupload maupun mendownload tugas-tugas sekolah.

Posting Komentar untuk "Gerakan Paperless di Sekolah*"