Minimnya Suportifitas Suporter*
DALAM permainan sepak bola suporter merupakan hal yang penting. Kehadiran suporter mendatangkan atmosfer kesemangatan dan dukungan yang berpengaruh positif pada tim sepak bola dukungannya. Dengan yel-yel, koreografi, dan sorakan-sorakan dukungan, para pemain menjadi lebih semangat dalam memenangkan suatu laga. Tak heran jika kemudian laga kandang lebih menguntungkan dari pada laga tandang. Laga kandang lebih memberi keuntungan dengan kehadiran suporter yang biasanya jauh lebih banyak daripada laga tandang.
Namun, dalam persepakbolaan di tanah air acapkali kita menjumpai minimnya suportifitas para suporter.
SEKARANG ini kerusuhan di lapangan hijau tidak lagi terjadi antar suporter, tapi juga suporter vs pemain. Seperti laga antara PSS vs Persis Solo di Stadion Manahan, Solo (4/9) kemarin. Beberapa suporter tuan rumah melakukan pelemparan terhadap pemain PSS. Alhasil beberapa pemain PSS mengalami luka-luka, karena terkena lemparan batu. Bahkan pemain PSS pada babak kedua tidak ke lapangan. Karena takut menjadi sasaran perilaku anarkis para suporter Pasoepati. PSS-pun akhirnya kalah WO dari Persis Solo.
Sungguh miris melihat fenomena semacam ini. Ketika prestasi cabang sepak bola belum cukup baik, justru alpanya suportifitas para suportes semakin menjadi-jadi. Hal semacam ini kontraproduktif dengan upaya memajukan sepak bola dalam negeri.
Melihat fenomena ini, pihak-pihak yang berkepentingan harus mengambil tindakan pengusutan maupun tindakan preventif yang brilian.

Posting Komentar untuk "Minimnya Suportifitas Suporter*"