Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Pemilih Cerdas*

            KONTESTASI pemilu presiden dan wakil presiden juga pemilu legislatif memang masih setahun lagi, atau dalam hitungan bulan masih sekitar 8 bulan lagi. Namun, gaungnya sudah santer di tahun ini. Di tahun politik ini calon-calon yang hendak bersaing dalam pemilu 2014 sudah mulai ancang-ancang kampanye pada publik. Lewat baliho yang bertebaran di ruang-ruang publik, iklan di media massa (TV dan koran), dan lewat media-media lainnya.

            Fenomena “mampang dini” para calon legislatif maupun capres di ranah publik sah-sah saja. Karena, ini merupakan ikhtiar mereka untuk memperkenalkan diri pada publik. Yang perlu jadi catatan adalah cara-cara yang digunakan harus cerdas, memiliki muatan edukatif kepada masyarakat. Sehingga, berpengaruh positif pada atmosfer persaingan menuju pemilu 2014.

            Para caleg, maupun capres jangan sampai terjebak pada politik pencitraan semu. Maksudnya adalah politik pencitraan yang menyuguhkan pribadi-pribadi yang tercerabut dari realitas. Pribadi-pribadi tersebut hanya dicitrakan begini dan begitu, tapi realitanya tidak demikian. Para calon harus pandai mengemas citra politik yang hakiki/tidak semu—tapi sebuah citra yang memang berpijak pada realita.

            Rakyat sendiri khususnya yang memiliki hak suara pada tahun depan, harus cerdas menyikapi fenomena di tahun politik ini. Wajah-wajah yang menghiasi baliho, TV, dan koran perlu dikenali dengan baik sebelum menentukan pilihannya di tahun depan. Rakyat harus menjadi pemilih-pemilih cerdas yang tidak tercemar oleh logika-logika transaksional nir-moralitas politik.

            Menjadi pemilih cerdas adalah menjadi pemilih yang memilih berdasarkan pertimbangan-pertimbangan rasional. Mereka memilih berdasarkan visi dan misi yang ditawarkan, dan juga berdasarkan kepribadian sang calon. Visi dan misi dilihat dari sejauh mana visi dan misi yang mereka tawarkan dapat menjawab tantangan yang sedang dihadapi bangsa ini. Disamping itu dilihat pula apakah visi dan misi tersebut secara nalar bisa diimplementasikan. Jangan-jangan visi dan misi hanya indah dalam logika kata semata.

            Kedua, berdasarkan kepribadian sang calon. Kepribadian sang calon dapat dilihat dari rekam jejak dan kemampuannya. Apakah rekam jejak selama ini baik, jauh dari kasus korupsi atau kasus pidana berat lainnya? Kemudian apakah calon tersebut mempunyai kemampuan untuk menjadi wakil di legislatif atau menjadi presiden. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini harus dilontarkan ketika mempertimbangkan calon yang pantas dipilih pada pemilu 2014 mendatang.


*Termuat di Bebas Bicara, Bernas Jogja, 30 Agustus 2013

Posting Komentar untuk "Menjadi Pemilih Cerdas*"