Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Gerakan Pramuka dan Pendidikan Karakter*

            Dewasa ini kita ketahui bersama bahwa Indonesia mengalami krisis karakter. Ditingkat pemerintah banyak pejabat dan politikus tersandung kasus korupsi. Ditingkat akar rumput sering terjadi aksi main hakim sendiri, tawuran, maupun premanisme dalam menyelesaikan suatu persoalan. Pada generasi muda pun kenakalan remaja semakin masif, meningkat secara kuantitas maupun kualitas.

Secara kualitatif kenakalan remaja mulai mengarah kepada tindak kriminalitas. Tentu masih terniang dibenak kita 2 kasus pembunuhan sadis dan tindakan asusila yang dilakukan oleh remaja di DIY, awal dan pertengahan tahun ini.

            Fenomena krisis karakter tersebut khsususya yang terjadi pada para pemuda bangsa ini menjadi sinyalemen bahwa, pendidikan kita belum mampu membentuk karakter bangsa ini. Barangkali sampai saat ini pendidikan kita masih terlalu menekankan ranah kognitif, sehingga ranah afektif belum teroptimalkan. Alhasil, nalar humanitas belum terasah dengan baik.

            Pada titik inilah perlu optimalisasi lagi peran-peran lembaga pendidikan dalam membentuk karakter para generasi muda bangsa ini. Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan perlu menyelaraskan lagi aplikasi-nya, untuk secara komprehensif menyentuh ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jangan sampai, anak hanya diajarkan menghafal materi-materi belaka tanpa kebermaknaan yang mumpuni. Kebermaknaan yang cukup juga perlu dikorelasikan dengan kehidupan sehari-hari. Sehingga, dapat diaplikasikan dalam pergaulan sehari-hari.

            Kedua, peran gerakan kepramukaan perlu diintensifkan lagi. Pramuka sebagai gerakan yang mengajarkan nilai-nilai kedisiplinan, solidaritas, kemandirian, kepekaan sosial, nasionalisme, dan lain sebagainya pelu dimaksimalkan lagi dalam pembentukan karakter bangsa ini.

Gerakan pramuka ini strategis untuk menjadi wahana pendidikan karakter karena dari semua jenjang pendidikan (SD, SMP sederajat, dan SMA/SMK/MA sederajat), terdapat gerakan kepramukaan yang diwajibkan bagi peserta didik. Bahkan ditingkat perguruan tinggi juga terdapat gerakan pramuka yang keanggotaannya berdasar suka-rela, minat-bakat, maupun keterpanggilan.

Momentum Hari Pramuka yang jatuh pada tanggal 14 Agustus kemarin, perlu dijadikan momentum untuk merefleksikan dan mengevaluasi sejauh mana peran gerakan pramuka selama ini.

*Termuat di Bernas Jogja, tanggal 15 (1) dan 16 (2) Agustus 2013


Posting Komentar untuk "Gerakan Pramuka dan Pendidikan Karakter*"