Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ramadan dan Perlawanan Terhadap Korup*


            Pada hakikatnya puasa bukan hanya bagaimana diri itu menahan rasa haus dan lapar, namun yang lebih esensial adalah bagaimana diri itu menahan hawa nafsu. Pemaknaan seperti inilah yang perlu kita pahami bersama. Mengapa hawa nafsu begitu diperhatikan untuk dikekang? Karena memang hawa nafsu merupakan hal yang sulit dikontrol, bahkan dalam Agama Islam hawa nafsu ditempatkan sebagai lawan paling sulit dalam berjihad—lebih sulit daripada berjihad pedang (perang).

            Salah satu hawa nafsu yang harus dikekang adalah sifat keserakahan. Karena keserakahan akan membawa pada kehancuran. Dalam sejarah peradaban Islam misalnya, Kekhalifahan terakhir yaitu Khilafah Usmani di Turki jatuh salah satunya disebabkan oleh adanya orang-orang yang “gila harta”. Mereka memberi tarif bagi siapa saja yang ingin menduduki jabatan tertentu.      Indonesia sendiri sampai hari ini sifat serakah masih menggerogoti para pejabat. Pejabat-pejabat serakah melakukan aksi pencurian uang negara (baca: rakyat) bukan karena kebutuhan (not by need) tapi karena keserakahan (but by greed). Mental-mental korup menggerogoti hati nurani mereka yang kemudian mental tersebut menjadi panglima pengarah langkah-langkah mereka.

            Negara ini sudah berkomitmen untuk memberantas korupsi yang makin menggurita, dengan dikomandani KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Namun tetap saja kasus korupsi masih marak terjadi. Hal ini karena memang mental-mental korup telah menjangkiti sejumlah pejabat di negara ini. Untuk itu kita perlu melakukan perlawanan terhadap mental korup ini.

            Momentum ramadan kali ini, kiranya tepat untuk dijadikan momen perlawanan terhadap mental korup. Korupsi merupakan anak kandung dari sifat serakah. Sehingga keserakahan itu perlu kita kekang dengan ideal-ideal agama yang terkandung dalam hikmah bulan Ramadan. Salah satu hikmah ramadan yang dapat dijadikan amunisi melawan serakah adalah sifat zuhud. Zuhud merupakan suatu sifat penjagaan diri terhadap godaan-godaan duniawi, seperti godaan materialisme.

Dengan sifat zuhud seseorang merasa berkecukupan hidupnya. Karena indikator kecukupan bukan ditentukan oleh materi yang dimiliki, tapi bagaimana bisa beribadah dengan lancar, menjalani kehidupan dengan bahagia, terpenuhi kebutuhan pokoknya, dan memiliki keluarga yang bahagia pula. Sifat serakah akan alpa dalam diri seorang yang zuhud.

            Pribadi-pribadi zuhud kemudian berkembang menjadi pribadi yang bersyukur. Pribadi yang bersyukur akan menerima segala yang diberikan padanya. Karena dia percaya bahwa Tuhan punya rencana. Keterimaan ini bukan keterimaan pasif, tapi keterimaan yang aktif. Keterimaan aktif mengandung arti menerima tapi tetap berusaha dan berdo’a untuk mendapatkan yang lebih baik. Bukankah nasib seseorang itu tidak akan dirubah apabila orang tersebut tidak berusaha merubahnya sendiri?

*Termuat di BERNAS JOGJA, 22 Juli 2013

Posting Komentar untuk "Ramadan dan Perlawanan Terhadap Korup*"