Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pencitraan vis-à-vis Otentitas*

            

Menarik mencermati diskusi peluncuran hasil riset bertema ‘Persepsi dan Sikap Pemilih terhadap Asosiasi dan Atribut Kandidat Capres dan Cawapres 2014’ yang diwartakan KR(15/6) kemarin. Dalam diskusi peluncuran hasil riset tersebut Arie Sujito (Sosiolog UGM) mengungkapkan setidaknya ada 2 kelemahan mendasar terhadap pencitraan hasil survei. Pertama, berkaitan dengan olahan hasil survei yang masih bersifat angka-angka sering kali realitanya berbeda dengan yang dicitrakan. Selain itu, pemilih yang mulai jenuh terhadap kepalsuan politik tentunya memiliki nalar sendiri dibanding harus mempercayai hasil survey.

Dari riset tersebut terlihat bahwa betapa rapuhnya politik pencitraan melalui hasil survey. Setali tiga uang pencitraan dalam bentuk lain pun acapkali menunjukan hal senada. Seperti pencitraan lewat media massa (khususnya televisi). Acapkali citra yang dibangun cenderung mengandung kepalsuan, ada jarak antara citra dan realita.

Citra politik memang suatu keniscayaan. Tanpa citra politik publik akan sulit mengenal sosok-sosok calon pemimpinnya. Namun, yang jadi masalah ketika citra politik itu dimaknai hanya sekedar mencitrakan tanpa landasan realitas yang kuat. Alhasil citra politik itu merupakan kesemuan belaka atau ‘seolah-seolah’. Seolah-olah memihak rakyat, seolah-olah memiliki integritas, seolah-olah memiliki komitmen untuk memberantas korupsi, dan seolah-olah lainnya.

            Kita semua akan mengamini bahwa sejatinya kita tidak butuh pemimpin yang hanya baik karena dicitrakan baik. Negara Indonesia ini butuh pemimpin-pemimpin yang memang baik adanya. Tampil apa adanya, memiliki integritas, dan juga kapabilitas yang mumpuni. Jawaban dari harapan ini tertumpu pada pemimpin otentik.

       Pemimpin otentik sangat dibutuhkan negara ini. Pemimpin yang antara ucapan dan tindakan koheren. Pemimpin yang tidak perlu mencitrakan dirinya dekat dengan rakyat, karena secara empiris memang dekat dengan rakyat. Tidak perlu mencitrakan dirinya berintegritas karena memang dirinya memiliki integritas, didasarkan pada rekam jejak dan fakta-fakta faktual lainnya. Pemimpin seperti inilah yang dapat menjawab ekspektasi rakyat yang merindukan pemimpin sekaliber para pendiri bangsa, seperti Bung Karno dan Bung Hatta.

            Pencitraan politik di media massa (khususnya TV) dipertengahan tahun politik ini semakin masif. Beberapa capres sering tampil di TV dengan mengusung citra diri yang apik. Atau mencitrakan diri lewat hasil-hasil survey yang dipublikasikan di TV. Citra diri yang ditunjukan bisa saja benar atau membenar-benarkan. Bagi para pemilih fenomena seperti ini perlu dicermati secara seksama. Jangan sampai pemilih terseret arus informasi yang keliru tentang seorang kontestan pemilu.

Pemilih perlu diarahkan ke kutub pemilih rasional. Pemilih rasional adalah pemilih yang memilih menggunakan dasar pijakan pertimbangan rasional. Pertimbangan rasional bisa berupa pertimbangan visi dan misi, pertimbangan program, dan track record (rekam jejak). Tipe pemilih seperti ini tak langsung mem-beo mengiyakan citra politik lewat media massa, mereka akan menggali informasi-informasi lebih jauh tentang sosok tersebut. Kemudian melakukan evalusi dari berbagai sumber sebelum menentukan pilihannya. Pastilah pemilih rasional ini cenderung memilih pribadi-pribadi otentik daripada pribadi-pribadi yang terlihat baik karena citra.

        Harapan terbentuknya pribadi-pribadi pemilih rasional akan terjawab apabila segenap skateholder melakukan pendidikan politik yang mencukupi. Partai politik, media massa, sekolah, dan skateholder lain perlu melaksanakan pendidikan politik secara masif terhadap calon-calon pemilih.

Ketika pribadi-pribadi pemilih rasional terbentuk, pada akhirnya output pemilu tak akan (lagi) mengecewakan rakyat. Semoga.

*Termuat di KR, 23 Juli 2013

Posting Komentar untuk "Pencitraan vis-à-vis Otentitas*"