Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dehumanisasi di Kalangan Remaja*

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa. Remaja bukan lagi anak-anak, karena secara fisik sudah berbeda dan cara berfikir, dan bersikapnya juga berbeda. Belum pula dikatakan dewasa. Maka masa remaja ini merupakan masa yang rentan, karena jati diri remaja belum mantap (masih dicari) sehingga ‘kompas’ pengarah perilaku baik pun belum maksimal bekerja.

            Tak heran jika kemudian masa remaja riskan akan perbuatan-perbuatan melanggar norma-norma bahkan norma hukum, yang sering disebut sebagai kenakalan remaja (juvenile deliquency). Kenakalan remaja ini layaknya sebuah penyakit, menyebar dikalangan remaja secara masif. Tanpa ‘antibodi’ yang kuat, remaja akan mudah terjangkit penyakit yang mengusung virus-virus kenakalan remaja. Antibodi yang dimaksud adalah sebuah pertimbangan-pertimbangan moral yang aktif mengekang hawa nafsu dan sifat keberingasannya.

            Dewasa ini kenakalan remaja semakin masif terjadi. Tak hanya kenakalan dalam bentuk ringan—seperti bolos sekolah, kenakalan remaja mulai mendobrak batas-batas humanitas dan hukum. Alhasil remaja sering melakukan tindakan kriminalitas yang acapkali menerabas sisi-sisi humanitas.

        Baru-baru ini terjadi dua tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh remaja. Pertama, pemerkosaan dan pembakaran seorang siswi SMK. Dan kedua, pembunuhan sadis seorang siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP). Mendengar fakta dua tindakan kriminalitas yang tergolong sadis tersebut, sebagai seorang manusia pasti nurani kita tersentak. Bagaimana bisa seorang remaja yang belum dewasa atau masih Anak Baru Gede (ABG) melakukan tindakan keji nan sadis seperti itu?

            Melihat fakta demikian, terlihat bahwa nilai-nilai humanitas di kalangan remaja mulai menurun atau luntur. Batas-batas kemanusiaan mulai diterabas oleh remaja, yang barangkali untuk mengejar eksistensi diri/ke-aku-an diri, atau meminjam istilah Filsuf Plato—mengejar suatu ‘pengakuan’ sebagai kebutuhan dasar manusia. Tentu hal ini sangat memprihatinkan.

            Lantas sejatinya apa penyebab lunturnya perikemanusiaan dikalangan remaja yang memicu tindak kriminalitas seperti kasus di Jogja? Menurut sosiolog Kartono, pemicu tindakan-tindakan menyimpang remaja antara lain adalah gagalnya remaja melewati masa transisinya, dari anak kecil menjadi dewasa, dan juga karena lemahnya pertahanan diri terhadap pengaruh luar yang kurang baik.

Dua faktor yang diungkapkan oleh Kartono, agaknya dapat menjawab faktor kenakalan remaja secara umum. Apabila kita tarik menggunakan logika positif berarti remaja harus diarahkan agar dapat melewati masa transisinya, dan juga dididik agar memiliki penalaran moral yang mumpuni. Penalaran moral merupakan proses pertimbangan moral sebelum suatu tindakan moral dilakukan seseorang. Tanpa pertimbangan-pertimbangan moral niscaya tindakan manusia tak beda dengan binatang, beringas dan mengendepankan hawa nafsu dan mengalpakan  nurani.

           Dua tanggungjawab besar diatas tentunya memerlukan kerjasama dari berbagai pihak. Utamanya keluarga, sebagai pendidik utama dan pertama. Di entitas keluarga seharusnya sejak dini anak dibekali dengan pemahaman-pemahan moral yang bersumber dari agama, tradisi, maupun yang berlaku secara universal. Sehingga, anak mempunyai pengetahuan-pengetahuan moral yang mencukupi untuk digunakan sebagai ‘kompas’ dalam bertindak. Semoga…

*Termuat di Harian Jogja, 23 Juli 2013

Posting Komentar untuk "Dehumanisasi di Kalangan Remaja*"