Rakyat Butuh Kepastian*
Rencana pemerintah untuk menaikan
harga BBM bersubsidi per 1 Mei akhirnya ditunda. Opsi penerapan dua harga BBM
bersubsidi pun batal menjadi pilihan. Akibat pembatalan opsi dua harga BBM
bersubsidi ini, diduga dana 10 M terbuang percuma. Dana tersebut digunakan oleh
Pertamina untuk membuat spanduk sosialisasi penerapan 2 harga BBM.
Sampai lewat 1 Mei pun rakyat belum
mendapat kepastian terkait dengan kenaikan BBM bersubsidi. Pemerintah berdalih
kenaikan baru akan dilakukan setelah dana-dana kompensasi bagi rakyat miskin yang
diantaranya seperti Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), beasiswa bagi
rakyat miskin, dan Program Keluarga Harapan (PKH)—siap digelontorkan. Padahal
dana itu baru akan siap digelontorkan ketika sudah adanya kesepakatan dengan
DPR dalam pembahasan RAPBN Perubahan 2013. Dan sayangnya lagi DPR masih dalam
masa reses sampai 12 Mei mendatang. Ketidakpastianpun tambah membuncah.
Fenomena proses pengambilan
kebijakan kenaikan BBM bersubsidi oleh pemerintah yang berlarut-larut ini
setidaknya menggambarkan dua hal. Pertama,
kegamangan pemerintah. Pemerintah terlihat gamang atau ragu-ragu dalam proses
pembuatan kebijakan tentang kenaikan BBM bersubsidi. Hal ini terlihat bahkan
sejak awal diwacanakannya kenaikan BBM, yaitu dengan akan adanya penerapan 2
harga BBM yang kemudian batal dilaksanakan. Kedua,
inkonsistensi pemerintah. Diawal sudah dihembuskan ke publik bahwa BBM
bersubsidi akan naik per 1 Mei, namun kenyataannya batal dilaksanakan.
Pemerintah terlihat tidak konsisten untuk melaksanakan apa yang telah
direncanakan.
Rakyat Butuh Kepastian
Kita paham bahwa kebijakan kenaikan
BBM memang suatu hal yang sensitif. Siapapun pemerintahan yang berkuasa
kebijakan semacam ini akan menimbulkan gejolak publik yang kebanyakan
menyuarakan perlawanan. Namun dalil semacam ini bukan merupakan pembenaran
bahwa proses pembuatan kebijakan kenaikan BBM dibuat berlarut-larut atau
maju-mundur. Sehingga rakyat pun mengalami ketidakpastian.
Presiden SBY saat membuka Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Nasional 2013 mengatakan, bahwa jika tidak
dikendalikan, nilai subsidi total APBN 2013 mencapai Rp 446,8 triliun,
sedangkan subsidi BBM menyentuh Rp 297,7 triliun. Defisit pun mencapai Rp 353,6
triliun atau 3,38 persen dari PDB. Dengan kondisi subsidi BBM yang terus
membengkak ini alternatif kenaikan mau tidak mau perlu diterapkan agar APBN
tidak terus terbebani. Apalagi fakta yang menunjukan bahwa kebanyakan subsidi
BBM dinilai dinikmati orang-orang yang tidak ‘tepat’ dari golongan menengah ke
atas bukan dari golongan bawah. Dua alasan ini setidaknya merupakan alasan cukup
logis untuk menaikan BBM bersubsidi.
Pada titik ini, menurut penulis ada
tiga hal yang perlu dilakukan oleh pemerintah. Pertama, pemerintah perlu memberikan kepastian terkait dengan waktu
kenaikan dan harga kenaikan BBM. Mengingat rakyat dibuat terkatung-katung,
dengan kebijakan yang gamang diterapkan. Jangan sampai ketidakpastian ini
justru menjadi pemicu gejolak sosial atau ekonomi yang seharusnya bisa
dihindari. Besarnya kenaikan pun juga perlu dipertimbangkan dengan kondisi
ekonomi masyarakat. Kedua, stok BBM
harus dijaga. Jangan sampai kelangkaan BBM terjadi lagi. Karena kelangkaan BBM
berpengaruh negatif pada pergerakan perekonomian dan mobilitas rakyat. Ketiga, kedepan dana-dana kompensasi
yang akan diberikan pada rakyat perlu diawasi dengan ketat. Pengawasan ketat
perlu dilakukan untuk menghindari jatuhnya dana-dana tadi pada orang yang tidak
‘tepat’ mendapatkannya. Disamping itu pengawasan juga diperlukan agar dana-dana
tersebut ‘aman’ tersalurkan pada yang berhak. Jangan sampai dana-dana tadi digerogoti
oleh orang-orang oportunis berdasi.
Ketidakpastian mengenai kebijakan
kenaikan BBM ini seharusnya dijadikan sebuah otokritik bagi pemerintah.
Kebijakan gamang semacam ini justru berdampak negatif bagi rakyat. Rakyat
merasa kecewa dengan kebijakan yang dibuat mengambang yaitu kebijakan yang
direncanakan, diwacanakan, tapi urung atau ragu-ragu dilaksanakan. Kedepan
pemerintah perlu lebih tegas lagi dalam pembuatan kebijakan, apapun kebijakan
itu. Karena waktu sendiri yang akan menjawab baik buruknya suatu kebijakan yang
diambil. Sejarahlah yang akan mencatatnya. Yang terpenting kebijakan-kebijakan
pemerintah pro terhadap rakyat, khususnya mereka yang belum mapan secara
finansial.
*Dimuat, di Harian Jogja tanggal 7 Mei 20013
Posting Komentar untuk "Rakyat Butuh Kepastian*"