KRISIS KETELADANAN
Beberapa akhir ini dunia entertainment
dibuat heboh dengan adanya beberapa artis di ibu kota yang diduga melakukan
pesta Narkoba di salah satu rumah artis terkemuka. Dalam perkembangannya
ditemukan barang bukti beberapa obat terlarang dan bahkan beberapa diantaranya
merupakan jenis obat baru. Jenis obat terlarang baru ini kemudian diungkap
bernama menthylenedioxy methycathione atau "M1". Keberadaan
jenis Narkoba baru ini cukup menyusahkan karena secara yuridis belum diatur. Di
luar negeri Narkoba jenis baru ini baru dilarang di negara barat seperti Amerika
dan Inggris.
Permasalahan Narkoba memang bukan
hal baru di Indonesia. Begitu pula artis yang terjerat kasus Narkoba juga bukan
hal baru. Namun demikian permasalahan terkait kasus Narkoba perlu menjadi
perhatian bersama, aplagi yang melibatkan publik figur. Kasus Narkoba yang
melibatkan publik figur memiliki efek domino lebih besar dari pada kasus
Narkoba yang tidak melibatkan publik figur. Pasalnya publik figur (artis) bagi
kaula muda khususnya sering dijadikan contoh atau panutan. Mereka dijadikan
panutan dari berbagai aspek, dari yang terkecil sekedar meniru fesyennya
seperti gaya rambut dan style (gaya berpakaian) sampai menduplikasi
sikap sang idola. Jika publik figur lebih intensif membuat kasus melanggar
hukum tentu tidak baik untuk generasi penerus bangsa. Hal ini kontraproduktif
dengan upaya pembangunan karakter bagi generasi penerus negeri ini.
Tak jauh berbeda dengan keadaan
beberapa publik figur di dunia entertainment, kondisi beberapa pejabat
publik pun juga memprihatinkan. Pejabat publik yang seharusnya melayani negara
(warga negara) justru acapkali mengedepankan egoisme dan oportunistiknya untuk
melayani hasrat menguatkan pundi-pundi sumber finansial pribadi. Hal ini dapat
terlihat dari kasus korupsi yang terus mendera, baik dari aras nasional maupun
aras pemerintahan lokal.
Mencari Tokoh
Panutan
Kondisi dalam dunia entertainment
dan politik di Nusantara ini tentu tidak bisa digeneralisasikan. Masih banyak
artis yang bisa menjadi panutan, begitu pula dari kalangan pejabat publik masih
banyak pejabat publik yang bisa menjadi figur untuk menjadi sauri tauladan.
Kita lihat artis muda berbakat Indonesia seperti Agnes Monica yang telah
mendunia. Dia sempat menjadi presenter pada acara American Music Awards
2010 silam, dan sempat menerima berbagai penghargaan yang terbaru adalah
penghargaan sebagai Penyanyi Terbaik Shorty Awards 2012. Dari kalangan pejabat
publik sampai hari ini, kita masih salut dengan kinerja maupun kepribadian dari
Dahlan Iskan (Menteri BUMN), Mahmud MD (Ketua MK), atau Jokowi yang sekarang
menjadi sorotan diberbagai media (tanpa mengesampingkan figur yang lain yang
tentu baik untuk menjadi panutan).
Tokoh-tokoh seperti mereka agaknya
perlu menjadi kiblat panutan—khususnya bagi generasi muda. Disamping itu
tokoh-tokoh yang telah mewariskan pemikiran-pemikiran atau karya-karya besar
seperti tokoh-tokoh keagamaan masing-masing seperti Nabi Muhammad SAW bagi
agama Islam, tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara juga perlu untuk
dijadikan figur teladan.
Di era perkembangan teknologi
informasi yang amat pesat ini agaknya butuh upaya yang tidak mudah untuk
mengarahkan generasi penerus bangsa agar meneladani tokoh-tokoh yang pantas.
Mengingat setiap waktu dari anak-anak sampai remaja lebih disibukkan dengan
menyaksikan acara televisi yang acapkali menyuguhkan dunia hiburan yang kontraproduktif
dengan pembangunan karakter. Seperti adegan kekerasan yang acapkali diduplikasi
dalam kehidupan sehari-hari. Walaupun kita tidak bisa mengesampingkan beberapa
stasiun televisi yang menayangkan topik-topik yang berbau pendidikan, seperti
pembelajaran bahasa inggris dan matematika, dan pembahasan perkembangan IPTEK yang
dikemas secara menarik.
Dalam titik ini peran orangtua
sangat sentral. Orangtua sebagai pendidik pertama dan utama harus bisa menempatkan
diri untuk memberi nasehat pada anak (entah ketika masih kecil maupun ketika
remaja). Dalam kasus anak usia sekolah ketika melihat acara televisi yang
kurang baik, perlu diperjelas oleh orang tua kalau hal itu kurang bak jadi
jangan dicontoh dan dijelaskan bagaimana seharusnya. Begitu pula ketika anak
mencari sosok untuk menjadi panutan, sebelum anak melalangbuana untuk mencari
panutan orang tua harus hadir menjadi panutan bagi anak mereka. Mengingat sifat
anak yang cenderung mencontoh, orang tua harus bisa menjadi contoh pertama bagi
anak. Bisa dengan hal terkecil seperti membiasakan berkata yang baik pada anak
dengan dimulai contoh dari orang tua, dan mencontohkan bersikap yang baik.
Sehingga nantinya contoh-contoh baik tadi akan tertanam pada anak yang pada
akhirnya ditiru dan kemudian menjadi karakter seiring dengan proses pendewasaan
diri sang anak
Oleh: M. Fatkhul Damanhury
Termuat di Harian Jogja, 5 Februari 2013
Posting Komentar untuk "KRISIS KETELADANAN"