Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kemunduran Politik*


Dalam tatanan negara modern keberadaan partai politik menjadi hal yang urgen/ penting. Partai politik menjadi semacam pilar dari negara modern. Sistem politik yang ada tidak dapat berjalan tanpa adanya parpol. Hal ini berkaitan erat dengan fungsi parpol itu sendiri. Menurut Huntington (2004), partai politik memiliki 4 fungsi yaitu, (1) sebagai sarana komunikasi politik; (2) sarana sosialisasi politik; (3) sarana rekrutmen politik; dan (4) sarana pengatur konflik.
            Dalam sistem politik di Indonesia keberadaan partai politik sampai hari ini telah mengalami dinamisasi tersendiri. Secara kuantitas jumlah parpol semakin meningkat, apalagi di era transisi menuju konsolidasi demokrasi ini. Namun tak jarang beberapa parpol menjadi pembincangan publik karena masalah tertentu. Seperti akhir-akhir ini, beberapa parpol besar  disorot publik karena kader-kadernya tersangkut kasus korupsi. Dalam skala tertentu pengalaman-pengalaman buruk—seperti kasus korupsi yang melanda parpol bisa mendatangkan ketidakpercayaan publik pada parpol. Alhasil dalam menjalankan fungsinya parpol sering mengalami kendala.
            Terkait dengan pelaksanaan fungsi rekrutmen politik, belakangan ini terjadi kemunduran. Parpol yang memegang posisi sentral dalam merekrut calon-calon pemimpin bangsa acapkali tidak menampakkan progesnya. Fenomena ini dapat kita lihat dari realitas perpolitikan dalam skala lokal maupun nasional. Dalam skala lokal terlihat dari pemilihan umun kepala daerah (Pilkada). Dalam Pilkada muncul tokoh-tokoh yang tidak memiliki rekam jejak politik, menjajagi dunia politik. Seperti artis-artis yang kemudian ramai mengisi pencalonan kepala daerah. Masalah tidak timbul apabila artis tersebut memiliki kapasitas sebagai pemimpin, namun ketika artis tersebut nyalon dengan modal ketenaran belaka tanpa diiringi dengan kapasitas yang mumpuni hal ini menjadi masalah besar. Mengingat menjadi pemimpin memerlukan kapasitas kepemimpinan yang mumpuni, dengan dibuktikan dengan rekam jejaknya.
Kondisi  perpolitikan di tingkat nasional pun tidak jauh berbeda dengan politik lokal. Orang-orang yang sebelumnya jarang atau tidak pernah terjun dikancah politik tiba-tiba masuk dalam bursa calon presiden. Kondisi ini kemudian menimbulkan pro dan kontra. Kelompok pro setidaknya mendukung dengan dalih bosan dengan figur-figur lama dan optimis dengan kapasitas yang dimiliki capres. Sedang, yang kontra menolak dengan argumen bukan tempatnya artis berkiprah menuju RI 1. RI 1 memiliki tanggungjawab besar mengurus negara yang tidak kecil ini, sehingga butuh pemimpin yang mimiliki kapasitas yang mumpuni.
Terlepas dari pro-kontra munculnya tokoh dari kalangan hiburan di bursa capres Indonesia, kondisi ini mengindikasikan kemunduran politik. Fungsi rekrutmen politik yang menjadi fungsi dari parpol tidak berjalan dengan baik. Partai politik dalam kasus ini tidak bisa memunculkan calon-calon pemimpin yang memiliki kapasitas untuk memimpin negeri ini. Rakyat bertambah frustasi ketika bursa calon presiden hanya diisi oleh ‘wajah-wajah lama’.
Setidaknya ada beberapa hal yang dapat direfleksikan dari masalah ini. Pertama, partai politik sebaiknya berbenah untuk mengoptimalkan perannya sebagai sentral dari rekrutmen calon pemimpin bangsa. ‘Kawah candradimuka’ parpol perlu digalakkan lagi. Sehingga, parpol dapat memunculkan tokoh-tokoh yang memang pas untuk menjadi pemimpin bangsa ini.
Kedua, perlu adanya perubahan mindset. Mindset orang yang terjebak pada asumsi bahwa mengabdi untuk bangsa hanya lewat jalur politik harus dirubah. Jalur politik bukan satu-satunya jalan untuk membawa kemajuan bahwa. Jalur-jalur lain juga turut membawa kemajuan bangsa. Dalam persepektif ini tokoh seperti Chairul Tanjung patut kita tauladani. Dimasa mudanya beliau pernah dibingungkan dengan pilihan antara bergerak dibidang pendidikan atau wirausaha. Kemudian bidang wirausahalah yang dipilih dan juga yang membawanya pada kesuksesan sekarang ini. Kesuksesan yang diraih bukan hanya untuk dirinya. Chairul Tanjung membuka lapangan kerja untuk ribuan rakyat Indonesia dan juga membawa perusahaan nasional berkiprah di bisnis global. Dari rekam jejak Chairul Tanjung, dapat dijadikan cerminan bahwa untuk memajukan bangsa jalur-jalur lain terbuka lebar. Artis bisa membawa kemajuan bangsa dengan kiprahnya yang mendunia, dan begitu juga dengan profesi-profesi lain.
Terakhir, rakyat selalu menunggu partai-partai politik dapat mengusung tokoh-tokoh yang berkapasitas untuk menjadi RI 1. Yang kemudian diharapkan dapat membawa kemajuan di bumi Nusantara tercinta. Semoga.

*Oleh: M. Fatkhul Damanhury
Termuat di Harian Jodja, 18 Desember 2012

Posting Komentar untuk "Kemunduran Politik*"