Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Selamatkan Bahasa Jawa!*


Ada penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa ibu selama satu abad terakhir 50% mengalami kepunahan dari 6700 bahasa di dunia. Penyebabnya disinyalir karena efek dari globalisasi. Di Indonesia sendiri menurut catatan Pusat Bahasa, sejumlah bahasa daerah tidak digunakan lagi. Sebagai contoh, di Papua ada sembilan bahasa yang punah sedangkan di Maluku Utara ada satu bahasa yang punah. Demikian dikatakan oleh Kepala Pusat Bahasa Depdikbud (Kompas, Selasa 26/2/2009). Posisi Bahasa Jawa sekarang ini memang belum menuju kepada kepunahan tetapi secara aplikatif penggunaan Bahasa Jawa cukup memprihatinkan.
            Bahasa Jawa sebagai salah satu bahasa ibu Bangsa Indonesia dewasa ini keberadaannya cukup memprihatinkan. Memprihatinkan karena dalam penggunaannya sehari-hari sedikit generasi muda yang secara holistik menggunakannya dengan baik. Generasi sekarang cenderung menggunakan Bahasa Jawa pada tingkatan paling dasar yaitu Bahasa Jawa Ngoko. Sedang Bahasa Jawa Krama apalagi krama inggil jarang digunakan, padahal dua tingkatan bahasa ini memiliki muatan kearifan lokal tinggi yaitu suatu penghormatan kepada orang yang lebih tua.
             Keadaan faktual memperlihatkan penggunaan Bahasa Jawa Krama dan krama inggil seringkali hanya dalam forum-forum resmi seperti acara pernikahan, acara pemakaman dan  rapat dusun/ RT. Sedang dalam komunikasi sehari-hari mulai jarang penggunaan dua tingkatan bahasa ini, khususnya oleh generasi muda. Selain karena generasi muda lebih sering menggunakan Bahasa Jawa Ngoko generasi sekarang juga lebih ‘nyaman’ menggunakan bahasa-bahasa ‘gaul’ seperti halnya bahasa sinetron yang dihasilkan dari modifikasi bahasa indonesia, contohnya adalah penggunaan kata loe dan gue untuk menyebut kamu dan aku.
            Keadaan seperti ini semestinya perlu diperhatikan oleh semua pihak, sehingga jangan sampai nantinya hanya Bahasa Jawa Ngoko-lah yang dikenal generani muda Jawa. Perlu terobosan-terobosan untuk melestarikan dan membiasakan penggunaan Bahasa Jawa secara holistik bagi generasi muda Jawa. Antara lain pertama, hari berbahasa Jawa di sekolah perlu dilakukan secara konsisten dan konsekuen. Mengingat meski kebijakan ini telah diambil tak jarang sekolah setengah-setengah dalam implementasinya, seharusnya jika memang hari berbahasa Jawa semua komunikasi di sekolah pada hari itu harus menggunakan bahasa Jawa. Kedua, pemanfaatan momentum. Momentum seperti ‘Hari Bahasa Ibu Internasional’ yang jatuh setiap tanggal 21 Februari perlu digunakan untuk menyuarakan pelestarian Bahasa Jawa. Pemerintah daerah maupun sekolah yang merupakan tempat dimana Bahasa Jawa menjadi bahasa ibu seperti di Yogyakarta perlu memanfaatkan momentum ini dengan mengadakan berbagai acara yang mendukung pelestarian Bahasa Jawa. Acara-acara ini seperti lomba pembawa acara dengan Bahasa Jawa, lomba Nembang Jawa, dialog atau seminar dengan para sejarawan atau budayawan yang konsen dengan eksistensi Bahasa Jawa dan lain sebagainya. Ketiga, peran orang tua dan masyarakat dalam memberikan pengetahuan dan pembiasaan penggunaan Bahasa Jawa secara menyeluruh mutlak diperlukan. Orang tua yang biasanya lebih fasih berbahasa Jawa Krama dan Krama Inggil harus melatih anak supaya terbiasa menggunakan Bahasa Jawa dengan baik. Begitupun masyarakat seperti dalam rapat-rapat dusun/ RT harus senantiasa menggunakan Bahasa Jawa dengan baik sehingga generasi muda yang biasa diikutkan dalam rapat tersebut akan sedikit demi sedikit belajar menggunakan Bahasa Jawa secara menyeluruh.
*Dimuar di Kedaulatan Rakyat, 28 Februari 2012

Posting Komentar untuk "Selamatkan Bahasa Jawa!*"