Menulis Membangun Nalar Intelektual Produktif*
Dalam Seminar
Nasional dengan tema “Revitalisasi Pendidikan IPS dalam Membangun Karakter
Bangsa” kerjasama antara HISPISI, FIS dan FE UNY tanggal 15 Januari 2012 yang
diadakan di FE UNY kemarin, Dr. Surwandono salah satu pembicara menyampaikan
hal tentang perlunya merubah nalar konsumtif menjadi nalar produktif dalam
dunia pendidikan. Gagasan yang diulas melalui papernya yang berjudul ‘Mengubah
Nalar Politik Pendidikan Nasional’ jika penulis ambil kesimpulan adalah mengubah
nalar untuk meningkatkan kompetensi peserta didik dari sekedar dengan konsumsi
pengetahuan yang masif menjadi nalar produktif dengan mengembangkan pengetahuan
yang didapat.
Bertolak dari gagasan tersebut
penulis berkontemplasi dan akhirnya berkesimpulan bahwa salah satu hal yang
perlu dilakukan dalam mengubah nalar konsumtif menjadi nalar produktif dalam
pendidikan adalah melalui menulis. Mengingat lewat menulis kita dapat
mengembangkan pengetahuan yang telah didapat dengan daya cipta, rasa dan karsa
yang dimiliki oleh semua insan. Jadi pengetahuan yang didapat tidak serta merta
diadopsi sebagai ‘kebenaran mutlak’ tapi perlu dilakukan komparasi dan disesuaikan
dengan kondisi sosial-kultural bangsa. Sebagai contoh demokrasi liberal ala
barat tidak cocok dengan kondisi sosial-kultural bangsa Indonesia, maka dari
itu kita mengenal demokrasi Pancasila yang diyakini sesuai dengan karakter
bangsa (bukan Demokrasi Pancasila ala Orde Baru dengan mengedepankan doktrin
yang sarat akan penyeragaman).
Berbicara tentang menulis ada berbagai macam pilihan jenis karya tulis
yang bisa dipilih sesuai dengan kesenangan masing-masing orang. Bagi orang yang
suka menulis cerita-cerita fiksi bisa menulis novel maupun cerpen. Bagi orang
yang suka menulis ilmiah bisa menulis karya ilmiah. Dan bagi yang suka
menyampaikan gagasan atau ide yang aplikatif dengan landasan intelektualitas
dalam bahasa yang umum bisa menulis artikel.
Dalam implementasi gagasan ini agaknya perlu ‘gerakan bersama’ dari semua
elemen. Pendidik (dosen maupun guru) perlu ‘kampanye literasi’ secara masif
pada peserta didik (mahasiswa maupun siswa) agar nantinya peserta didik bisa
aktif menulis. Pemerintah sebagai pengambil kebijakan perlu membuat policy yang
pro dan mendorong terwujudnya gagasan ini, kalau solusi yang ditawarkan Dr.
Surwandono mengenai permasalahan umum nalar konsumsi di pendidikan adalah
anggaran 20% untuk pendidikan tidak hanya difokuskan untuk aktivitas konsumtif,
tetapi pengalokasiannya mulai digeser ke arah produksi pengetahuan.
Sehingga nantinya peserta didik menjadi insan yang berdaya dengan
kemampuan cipta yang handal, yang tentu saja sejalan (on the track) dengan upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa
Indonesia yaitu ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’. Semoga.
*Dimuat di Jagongan Harjo, 31 Januari 2012
Posting Komentar untuk "Menulis Membangun Nalar Intelektual Produktif*"