Ironi Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi*
Negeri gemah
ripah loh jinawi sebuah ungkapan yang sudah umum untuk menyebutkan kondisi Negeri
Indonesia. Secara harfiah arti dari ungkapan ini adalah kekayaan hasil bumi yang melimpah. Jadi Indonesia merupakan negeri
yang memiliki kekayaan hasil bumi yang melimpah. Bahkan ada ungkapan bernada
optimisme berlebihan bahwa ‘nandur opo wae dadi’ (menanam apa saja tumbuh),
sebagai ungkapan bahwa negeri ini memang benar-benar melimpah dengan kondisi
tanah yang subur.
Tapi kekayaan hasil bumi yang melimpah ini tidak
berkorelasi dengan kemakmuran rakyatnya. Seperti yang terjadi pada para petani
negeri ini. Kemakmuran seolah menjadi harapan uthopis bagi petani Indonesia,
ketika mereka berjuang untuk meningkatkan taraf hidup dengan kerja keras sekarang
tambahan beban ditindihkan pada mereka. Kenaikkan pupuk bersubsidi di tahun
2012 ini adalah salah satunya. Implikasi dari kenaikkan pupuk bersubsidi ini
bagi petani tentu akan memberikan efek yang besar, ongkos produksi untuk
pengolahan lahan akan semakin besar dan mungkin akan tidak seimbang dengan
hasil panen yang didapatkan.
Selain itu
kebijakan impor bahan makanan turut menyumbang semakin jauhnya kesejahteraan para
petani Indonesia. Seperti impor beras, pemerintah menganggap impor beras perlu
dilakukan untuk menambah stok beras nasional. Padahal sejatinya impor tidak
serta merta menjadi solusi dalam masalah kekurangan stok beras. Malahan
menimbulkan masalah baru yaitu persaingan produk lokal dengan produk luar yang
acap kali produk luar (impor) keluar sebagai pemenangnya. Disinilah nasib para
petani dipertaruhkan.
Kebijakan kenaikkan pupuk bersubsidi tahun 2012
ini dari harga awal Rp 1.600,- menjadi Rp 1.800,- dan masih konsistennya
kebijakan pemerintah untuk melakukan impor beras melihatkan pemerintah kurang
pro terhadap petani. Terlalu besar dampak negatif yang diakibatkan dari
kebijakan seperti ini dari pada kebermanfaatannya. Diberbagai daerah akibat
kenaikkan pupuk petani mengeluh ongkos produksi mereka naik. Sebagai
contoh di Yogyakarta, jika biasanya satu hektarnya (menanam padi) hanya
membutuhkan 4 hingga 4,5 juta rupiah, musim tanam kali ini diperkirakan
menghabiskan hingga 7 hingga 7,5 juta rupiah (MICOM, 14/1/2012).
Jika kebijakan-kebijakan semacam ini terus menjadi trend kebijakan pemerintah maka ironilah yang akan terus nampak
yang terus-menerus menguatkan pemiskinan massal rakyat Indonesia khususnya para
petani. Untuk itu perlu adanya kemauan politik (political will) oleh para
skate holder dalam membuat kebijakan yang pro terhadap petani negeri ini.
seperti halnya kebijakan-kebijakan yang mendorong produktifitas petani,
pembangunan infrastruktur di pedesaan dan lain sebagainya. Sehingga nantinya gemah ripah loh jinawi akan mengantarkan
kepada toto tentrem kerto raharjo
yaitu tatanan atau keadaan yang membawa pada kesejahteraan. Semoga.
*Dimuat di Harjo, 7 Februari 2012
Posting Komentar untuk "Ironi Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi*"