Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Lunturnya semangat gotong-royong di Negeri Indonesia

Gotong-royong, sebuah kata yang sudah tidak asing lagi bagi rakyat Indonesia, mengingat sudah ada dan dikenal cukup lama konsep gotong royong. Di era prakemerdekaan gotong royong menjadi sebuah gagasan yang mewakili identitas bangsa Indonesia ketika perumusan dasar negara saat sidang BPUPKI yang disampaikan oleh Bung Karno. Saat itu sebelum pancasila disepakati sebagai dasar negara, Soekarno memberikan gagasan bahwa pancasila bisa diperas menjadi tiga, yaitu: socio-nasionalisme, socio-democratie, dan Ke-Tuhanan, yang kemudian dinamakan Tri Sila. Tri Sila oleh Soekarno diperas lagi menjadi Eka Sila yaitu gotong-royong.
            Menurut M. Nasroen (1907-1968) Guru Besar Filasafat UI gotong royong adalah filsafat bangsa Indonesia. Dia mengartikan gorong royong yang disampaikan Bung Karno adalah bekerja bersama-sama untuk mencapai hasil yang didambakan.
            Tapi di era reformasi ini agaknya semangat gotong royong itu luntur atau meredup. Para wakil rakyat yang duduk dipemerintahan yang seharusnya menjadi contoh bagi rakyatnya malah terkadang mempertontonkan aksi gontok-gontokkan dalam beberapa kesempatan. Gotong royong mungkin ada dalam keseharian pemerintah tapi lebih banyak gotong royong dalam artian negatif, gotong royong melakukan korupsi, penggelapan uang, mempertahankan kekuasaan dan lain sebagainya. Padahal alangkahnya bijaknya ketika gotong royong itu mewarnai pemerintah dengan tujuan atau cita-cita bersama sesuai amanat konstitusi dalam pembukaan UUD 1945 alinea keempat yang salah satunya adalah memajukan kesejahteraan umum.
            Di tingkat rakyat pun semangat gotong royong seolah meredup. Khusus masyakat perkotaan beberapa lebih menonjolkan kehidupan yang individualistis, bahkan tidak saling mengenal apalagi untuk bekerjasama. Di masyarakat pedesaan agaknya semangat gotong royong masih nampak sinarnya. Di beberapa wilayah pedesaan kita masih bisa menjumpai adanya kegiataan kerja bakti. Kerja bakti yang merupakan salah satu jenis gotong royong masih sering dilakukan warga desa dalam beberapa keperluan bersama, seperti: dalam bersih-bersih desa dan perbaikan jalan. Di Jawa khususnya di Jogja jika sebuah keluarga ada gawe (hajatan) mantu, supitan dan lain sebagainya dalam mengurusnya sering melibatkan warga sekitar untuk membantu.
Gotong royong yang mendambakan terwujudnya tujuan bersama dengan kerjasama agaknya perlu digiatkan lagi kesemangatannya dalam kehidupan berbangsa bernegara baik di level pemerintah maupun warga negara. Pada akhirnya semangat gorong royong ini diharapkan mampu mendorong terwujudnya cita-cita negara Indonesia.

Posting Komentar untuk "Lunturnya semangat gotong-royong di Negeri Indonesia"