Degradasi Moral dan Meningkatnya Individualistik dalam Tatanan Kehidupan Bermasyarakat
Moral berarti ajaran baik atau buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dsb. (KBBI). Atau dalam agama islam disebut akhlak. Akhlak suatu sifat yang tetap pada jiwa yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah, dengan tidak membutuhkan kepada pikiran (Al-Ghazali). Secara garis besar moral atau akhlak adalah suatu sifat atau ukuran sebagaimana yang seharusnya dilakukan. Sumber moral yang paling pokok yaitu dari agama, kalau dalam agama islam Al Qur’an dan Al Hadis.
Indonesia dulu dikenal mempunyai karakter ketimuran. Ramah tamah, santun, berbudi pekerti luhur, suka menolong, berjiwa sosial tinggi dan lain sebagainya. Tetapi apakah itu masih dapat kita lihat sekarang. Mulai dari para elite politik atau pejabat, pengusaha dan warga negara biasa mengalami degradasi moral atau kemerosotan moral. Para pejabat dari kelas teri sampai kelas kakap pada korupsi. Sebagai contoh kasus Bank Century, kasus Gayus Tambunan dan lain sebagainya yang masih belum terungkap karena banyaknya tipu muslihat.
Kemerosotan moral pada warga negara dapat dilihat di kanan-kiri kita. Berita-berita kriminalitas jadi bahan tiap hari, demo-demo anarkis yang berakhir dengan korban jiwa, bentrokan antar sporter bola, tingginya sifat individualis yang ditandai dengan hilangnya kepedulian pada kehidupan bermasyarakat, dan lain sebagainya yang tidak akan cukup jika ditulis semua.
Agar tulisan ini dapat fokus pada tema maka kami hanya akan menyoroti mengenai kemerosotan moral yang terjadi di tatanan kehidupan bermasyarakat. Tatanan kehidupan bermasyarakat pastilah identik dengan sifat kegotongroyongan yang oleh Soekarno disebut-sebut sebagai nilai asli yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Maksud dari nilai asli Indonesia yaitu merupakan cultur atau budaya asli yang sejak lama ada dan melekat pada masyarakat Indonesia.
Tapi sungguh ironis sekali di kota-kota gotong royong sudah musnah. Sebagian besar mereka masing-masing sudah tidak memikirkan lagi kebersamaan, individualistik sangat kental terasa. Sampai-sampai ada suatu kasus dimana ada keluarga yang tidak mengetahui siapa tetangganya. Masyaallah. Apakah mereka tidak tahu bahwa Rasulullah telah memberikan contoh untuk rukun dengan tetangga. Sampai-sampai rasulullah bersabda, “Tidak dikatakan iman seseorang selama tetangganya tidak merasa aman akan kehadirannya”. Dalam konteks permasalahan di masyarakat perkotaan, beberapa realita menyebutkan bahwa masyarakat kota kenal saja tidak pasti relatif berprasangka buruk atau suudzan.
Posting Komentar untuk "Degradasi Moral dan Meningkatnya Individualistik dalam Tatanan Kehidupan Bermasyarakat"